Posted by: Darmawan | January 5, 2009

Menghitung “return” dari investasi TI

investasi-ti

Istilah return atau imbalan/ pengembalian sering kita dengar dalam akuntansi atau menajemen keuangan yang berarti sesuatu pengembalian sejumlah nilai uang yang dapat dihasilkan nanti atas kegiatan pengorbanan sejumlah nilai uang tertentu saat ini dalam suatu kegiatan misalnya: Membeli saham, membeli mesin, membeli pabrik atau membuat alat tertentu. Dalam hal ini return yang dimaksud dapat dengan mudah dikenali, dapat berupa dividen, profit dan dihitung dalam persen untuk setiap kegiatan investasi. Estimasi perhitungan return diawal sebelum melakukan investasi tentunya memberikan masukan bagi investor untuk memutuskan apakah akan melakukan investasi atau tidak. Banyak metode yang dipakai dalam menilai kegiatan investasi ini seperti NPV, IRR, ROI method, EVA Method, Payback period.

Dapatkah konsep penilaian investasi yang sama diterapkan dalam menilai investasi di teknologi informasi (TI) ?

Jawabnya tentu saja bisa. Hanya saja sifat dari return yang diharapkan dari investasi TI tidak mudah diidentifikasi. Investasi TI seperti implementasi ERP, e-business solution, knowleage management solution, Custumer Relationship Management memerlukan investasi software, hardware, konsultansi, pelatihan dan infrastruktur komunikasi. Sehingga sangat sulit membuat kaitan antara investasi secara spesifik terhadap benefit yang diperoleh. Sehingga ada perbedaan signifikan dalam sifat investasi dan sifat dari return investasi TI. Terutama sifat return yang bersifat intangible dan relatif sulit di kuantifikasi.

Pendapat Michael E. Porter mengatakan bahwa investasi di TI memberikan keunggulan bersaing bagi perusahaan, karena investasi TI yang melekat dalam rangkai nilai (value chain) perusahaan potensial untuk menciptakan keunggulan bersaing. Menurut Michael E. Porter ada dua kelompok tujuan perusahaan mengadopsi teknologi informasi: A)Operational Efectiveness yang diartikan dapat melakukan aktivitas yang sama lebih baik dari pesaing dan B) Strategic positioning yang diartikan dapat melakukan kegiatan yang berbeda atau melakukan kegiatan yang sama dengan cara yang berbeda.

Kombinasi kedua tujuan diatas menyebabkan perusahaan dapat berada di 4 kuadran berikut yaitu: 1). Unfocus (Low Operational Efectiveness dan Low Strategic positioning). 2). Operation Focus (High Operational Effectiveness dan Low Strategic Positioning). 3). Market Focus (Low Operational Effeciency dan High Strategic Positioning). dan 4). Dual Focus ( High Operational Effectiveness dan High Strategic Positining).

Keputusan investasi TI adalah keputusan lanjutan yang dibuat setelah formulasi strategi bisnis dan strategi TI. Keselarasan strategis (strategic allignment) antara strategi bisnis dan strategi teknologi informasi disepakati merupakan hal yang sangat berpengaruh terhadap return (Intangible benefit / value) dari investasi TI. Ketidakselarasan akan terjadi dalam rentang dari — TI gagal mensupport strategi bisnis sampai — strategi organisasi gagal me-utilisasi sumber daya TI ( IT under utilization). Gap yang besar akan menyebabkan rendahnya IT delivery value yang dalam hal ini adalah return. Sejatinya tentunya return dapat diturunkan dari 4 posisi kuadran diatas.

Langkah-langkah penentuan investasi TI

Metodologi menghitung return merupakan suatu proses evolusi, tidak ada langkah yang benar-benar scientific, mungkin beberapa elemen terkesan subjektif tetapi paling tidak dapat dikatakan mendekati scientific. Tim ROI harus melakukan pendekatan konsultatif dengan business leader dan implementator TI inti, untuk menemukan cakupan projek ROI diantaranya: Penyiapan kasus untuk investasi TI, memahami sifat dan timing benefit yang diharapkan dari investasi TI, memproyeksikan biaya tetap dan tambahan, menurunkan rasio pengukuran benefit, dan mengkuantifisir, serta menganalisa biaya manfaat melalui penghitungan payback period dan IT Value Added. Tahapan yang perlu dilewati oleh Tim ROI adalah:

1. Mengenali dan mengidentifikasi inefisiensi sistem saat ini. Misalnya: Jam kerja tinggi untuk pekerjaan sederhana, duplikasi pekerjaan, jam supervisi tinggi, laporan tidak reliable, masalah skalabilitas dan sebagainya.

2. Definisikan kebutuhan proses bisnis. Nyatakan dengan jelas kebutuhan bisnis masa datang dan lakukan pencocokan proses bisnis dengan solusi TI.

3. Lakukan penilaian kualitatif melalui survey / kuesioner. Benefit secara keseluruhan dibuat berbentuk feedback rating matrix yang dapat terdiri dari parameter efisiensi yang diharapkan dalam proses internal, customer relationship management dan good governance.

4. Lakukan penilaian kuantitatif melalui collective forecasting. Setiap benefit dikuantifisir melalui proses estimasi / measurement ratio. Sebagai contoh: dalam kasus solusi CRM estimasi peningkatan dalam layanan customer dapat diukur.

Selain melakukan hal-hal diatas tim ROI juga harus melakukan penilaian kualitatif terhadap benefit melalui kuesioner, untuk 5 dimensi kunci bisnis berikut: Posisi bersaing, manajemen dan arus informasi, pengendalian dan efisiensi operasional, manajemen customer dan distributor serta suplier serta Corporate image.

Akhirnya tim ROI harus dapat mengkuantifikasi peningkatan area yang telah diidentifikasi melalui pengukuran rasio. Benefit yang dapat dikuantifikasi melalui : Peningkatan call eficiency ratio, utilisasi waktu dan pengurangan paper work, menurunnya kerusakan mesin karena monitoring lebih baik, penurunan jumlah inventory karena manajemen inventory lebih baik, proses biling lebih cepat dan akurat, peningkatan jumlah customer yang terlayani, pembuatan keputusan lebih cepat dan lebih baik, tambahan revenue dari penjualan produk atau jasa baru, dan lain-lain.

Bagaimanapun dalam melakukan kuantifikasi terhadap benefit investasi TI, selalu saja ada faktor yang menyebabkan menurunnya nilai benefit yang akan didapat diantaranya (Negative factor); Business Prosess Reengineering yang tidak berjalan sebagaimana seharusnya, turnover over user, rendahnya orientasi TI pegawai, competitor tidak melakukan investasi yang sama sehingga margin tidak bersaing dll. Sehingga pengaruh dari faktor negatif dapat dipertimbangkan sebagai diskon faktor terhadap ROI.

Justifikasi biaya atas investasi TI dapat diturunkan dari rumusan penghitungan investasi sebagai berikut:

Net Realizable benefits (total quantified benefit dikurangi total cost)

ROI (IT) = ________________________________________________

Total cost (capital + recurring)

Total Cost

Payback Period (PP)= _________________________

Total quantified benefit/Proceed

dimana : Proceed biasanya disebut aliran kas masuk (Cash inflow) yaitu keuntungan bersih sesudah pajak dikurangi dengan depresiasiEVA (IT) = IT ROI less Weigted average cost of capital x Total IT Investment

Kesimpulan:

Kesuksesan bahwa TI dapat men-deliver value bagi perusahaan dapat terealisasi dengan adanya perencanaan TI dan implementasi yang terkendali. ROI adalah alat ukuran yang baik digunakan pada saat akuisisi karena ROI dapat memberikan 1) Justifikasi biaya dan biaya pemilikan 2) terpenuhinya estimasi benefit dan akuntabilitas. Pengukuran IT benefit merupakan proses berkesinambungan. Perlu adanya kriteria pengendalian untuk mengukur semua proses terkait seperti akuisisi, implementasi, stabilisasi serta upgrade system. Kriteria mencakup feasibility, benefit realization goals, audit dan survey performa TI.

Untuk contoh konkritnya termasuk cara menghitungnya, nanti saya lanjutkan di artikel berikutnya..

Sumber : Indrianita


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: