Posted by: Darmawan | July 17, 2008

Daya saing Indonesia Menuju Kesejahteraan Bangsa : Makna Hari Kebangkitan Nasional

 

 

Sudah 100 tahun tidak terasa, sejak lahirnya Budi Utomo tahun 1908 yang merupakan tonggak perjuangan nasional Indonesia dalam melawan segala bentuk penjajahan di negeri ini. Lahirnya Budi Utomo dianggap sebagai awal kebangkitan nasional karena perjuangan melawan penjajahan tidak bersifat kedaerahan lagi, melainkan bersifat nasionalisme, yang mengandalkan persatuan dan kesatuan bangsa. Lahirnya Budi Utomo juga merubah arah dan strategi perjuangan kita, dimana sebelumnya hanya mengutamakan kekuatan fisik tanpa memperhitungkan kekuatan otak, menjadi ke arah diplomasi, peningkatan dan penyebarluasan pendidikan bagi semua rakyat. Oleh karena itu, Soekarno, Presiden pada waktu itu memandang penting perlunya suatu momen untuk menyadarkan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia akan pentingnya menjalin persatuan dan kesatuan,  menghimpun dan menyatukan kekuatan melawan penjajahan bangsa kolonial pada saat itu, serta menguatkan rasa nasionalisme terhadap bangsa Indonesia, yang pada saat itu berada dipinggir jurang kehancuran. Kemudian dicarilah dan disepakati bahwa peristiwa lahirnya Budi Utomo tanggal 20 Mei 1908 diangkat sebagai hari kebangunan atau kebangkitan nasional.

            Perjalanan panjang bangsa ini menuju kemerdekaan diwarnai oleh berbagai macam pergolakan dan pengorbanan yang tidak terbilang demi mewujudkan kemerdekaan bangsa yang diidam-idamkan itu. Sejak diproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 dan telah diakuinya secara internasional sebagai bangsa yang berdaulat, maka dimulailah babak baru dimana Pemerintah bersama-sama dengan rakyatnya harus berjuang mempertahankan dan mengisi kemerdekaan tersebut, salah satunya dengan pembangunan disegala bidang kehidupan baik ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan. 
            Namun ternyata selama 100 tahun, Indonesia belum bebas dari yang namanya penjajahan. Bukan penjajahan secara fisik seperti waktu pemerintahan Belanda atau Jepang , tetapi penjajahan dalam bentuk politik, ekonomi, sosial, budaya, dll. Penjajahan seperti ini bisa lebih mengancam eksistensi suatu bangsa termasuk bangsa Indonesia yang kita cintai ini.
            Sebagai contoh saja, di era globalisasi dan perdagangan bebas, penjajahan ekonomi dan politik juga dirasakan oleh negara-negara yang sedang berkembang atau negara yang belum maju. Negara-negara belum maju dipaksa membuka pasarnya lebar-lebar oleh negara maju dengan kompensasi pinjaman dari Organisasi Internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF). Hal ini juga dialami Indonesia, sebagai bagian dari paket pertolongan atau bantuan IMF yang lazim disebut structural adjustment program, salah satu syarat mutlak yang harus ditaati negara penerima bantuan adalah mengadakan liberalisasi perdagangan. Artinya apa? Artinya barang atau produk dari negara-negara maju tentu saja dapat masuk dengan bebas tanpa ada hambatan yang berarti. 
            Lihat saja, banjir beras impor yang sangat membebani bahkan membuat bangkrut para petani. Hal ini disebabkan Indonesia-atas perintah IMF- menurunkan tarif impor beras hingga nol persen. Kebijakan negara seperti ini secara langsung dapat membunuh para petani lokal. 
            Padahal secara teori, globalisasi ekonomi dan perdagangan bebas antar negara dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran suatu negara yang ikut dalam perdagangan bebas, dengan mengandalkan komoditas yang mempunyai keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif. Hal ini dapat dicapai dengan cara menghilangkan berbagai hambatan perdagangan baik hambatan tarif maupun hambatan bukan tarif sehingga tercipta aliran perdagangan yang semakin cepat dan meningkatnya volume perdagangan antar negara.  
            Namun perlu diingat, kunci keberhasilan dalam menghadapi perdagangan bebas adalah terletak pada kesiapan dari negara itu sendiri. Kesiapan suatu negara dapat dilihat dari kesiapan Infrastruktur dan Sumber Daya Manusia (SDM). Berdasarkan survei dan pendapat para pengamat, bahwa infrastruktur di tanah air belum mendukung untuk menghadapi perdagangan bebas, ditambah lagi kualitas SDM kita masih rendah. Kedua faktor inilah yang membuat industri lokal kita tidak mampu bersaing dengan produk atau industri dari luar. 
            Dampaknya jelas akan memakan korban yaitu industri-industri yang tidak siap menghadapi persaingan global terutama industri kecil, industri ini akan mati pelan-pelan, kemudian meminta korban berikutnya yakni jutaan pengangguran. Fenomena ini sudah terjadi namun kita menyaksikan Pemerintah cenderung menutup mata, melihat keadaan yang tidak sehat ini.  
            Sebetulnya ada beberapa kendala lainnya yang menyebabkan industri lokal kita tidak mampu bersaing, diantaranya masih menjamurnya praktek KKN di tubuh birokrasi yang berdampak negatif pada dunia usaha. Otonomi daerah yang diharapkan akan meningkatkan akuntabilitas pejabat publik dan mendorong ekonomi lokal ternyata dipakai untuk menarik keuntungan sebanyak-banyaknya dari dunia usaha tanpa menghiraukan implikasinya. Otonomi malah menampilkan sisi buruknya yang bisa mempengaruhi daya saing produk Indonesia. 

            Selain itu, Pemerintah yang tidak berupaya untuk melindungi pasar dalam negeri. Banjirnya produk asing yang masuk ke Indonesia dan tidak dibatasi maka akan mengancam industri dalam negeri. Apabila tidak ada perlindungan dari Pemerintah maka dipastikan setengah dari industri khususnya IKM/UKM akan rontok karena tidak mampu bersaing. Sebut saja produk asal Cina, dimana telah memasuki hampir seluruh pasar Indonesia. Produk Cina benar-benar telah menggempur produk lokal. Pengamatan Kompas di Pasar Mangga Dua, Tanah Abang, maupun pasar lainnya menunjukkan di semua tempat tsb bertaburan produk Cina, sedangkan produk lokal semakin terpinggirkan ke pasar yang lebih kecil. Berdasarkan data statistik, total pertumbuhan impor Cina untuk produk garmen saja, mencapai 380 persen dalam lima tahun terakhir. Itu belum termasuk yang ilegal.

 

 

 

Melihat kondisi yg mengancam itu, lantas apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan industri lokal? Menurut saya minimal ada 5 hal yang bisa kita lakukan.

 

 

Pertama, tentu saja Pemerintah harus peka terhadap kondisi ini. pemerintah jangan hanya menunggu dan baru bertindak ketika industri kita mulai mati atau bangkrut. Sudah saatnya Pemerintah memberlakukan safeguard (perlindungan pasar) terhadap barang khususnya produk China, yaitu dengan cara menaikkan tarif bea masuk khusus untuk produk Cina. Hal itu bukan tindakan tabu karena Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa pun melakukan tindakan tersebut. Bahkan tindakan safeguard ini diperbolehkan oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). 
            Kedua, Pemerintah juga bisa melindungi produk dalam negeri yaitu dengan melakukan pengawasan mutu. Artinya produk dari luar yang tidak sesuai dengan standar mutu Indonesia yang telah ditetapkan, dilarang masuk ke pasar domestik.  Ini dapat mecegah produk-produk yang tidak berkualitas masuk ke Indonesia, seperti yang sekarang ini kerap terjadi.
Ketiga, praktek KKN dan berbagai pungutan liar yang dilakukan Pemerintah disemua lapisan harus dibersihkan. Kalau tidak maka hal ini akan menyebabkan biaya ekonomi tinggi yang berpengaruh terhadap daya saing produk dalam pasar internasional.
          Keempat, yang tidak kalah pentingya, Pemerintah harus memperbaiki infrastruktur yang ada dan meningkatkan kualitas dari sumber daya manusia (SDM) agar dapat mendukung industri dalam negeri dalam menghadapi persaingan pasar bebas. SDM yang berkualitas dapat dilakukan dengan meningkatkan mutu pendidikan serta menjamin biaya pendidikan yang murah.
           Yang terakhir, kita sebagai bangsa Indonesia, harus lebih mencintai produk lokal ketimbang produk asing. Bagaimanapun juga, kebebasan itu jatuh pada kita sebagai konsumen untuk memilih, apakah produk luar yang kebarat-baratan atau dengan harga yang sangat murah namun dengan kualitas yang tidak jelas atau-kah produk sendiri yang merupakan hasil karya anak bangsa sendiri. Kalau kita memilih produk lokal, berarti kita ikut membantu memajukan industri dalam negeri, yang secara tidak langsung ikut mensejahterahkan masyarakat.  
            Bila kelima hal tersebut dilakukan maka niscaya di era globalisasi dan perdagangan bebas ini, Indonesia akan mampu bangkit dan bersaing di pasar domestik maupun di pasar global sehingga diakui dimata dunia dan pada gilirannya dapat memberikan kesejahteraan dan kemakmuran yang diharapkan seluruh rakyat Indonesia. Inilah makna sesungguhnya dihari kebangkitan nasional ini.

 

 

 

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: