Posted by: Darmawan | July 11, 2008

Teknologi 3G, Sukseskah?

Teknologi 3G

Teknologi 3G

Saya sempat membaca artikel-artikel dan mengamati Perkembangan Teknologi 3G. Kelihatannya menarik. Saya coba merangkumnya dan “Here they are”. Selamat membaca.

Teknologi Teknologi 3G (third generation) adalah teknologi seluler generasi ke-3. Teknologi 3G merupakan perkembangan dari teknologi seluler sebelumnya yaitu teknologi 2G (Generasi ke-2) dan teknologi 1G (Generasi pertama).

Teknologi 1G (Generasi Pertama) adalah teknologi AMPS (Analog Mobile Phone System) dan NMT (Nordic Mobile Telephone). Teknologi ini masih analog , mempunyai kecepatan yang rendah (low speed) dan cukup untuk suara (voice) saja. Jadi data seperti teks belum masuk di teknologi ini.
Teknologi 2G (Generasi ke dua) adalah teknologi GSM (Global System for Mobile Communications) dan CDMA (Code Division Multiple Access).

Teknologi GSM yang sudah digital dan mempunyai kecepatan rendah – menengah, dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan komunikasi di Eropa Barat. GSM bahkan menjadi standar telepon seluler yang paling populer di dunia dan saat ini GSM digunakan oleh lebih dari 2 milyar orang di lebih dari 212 negara.

Keseragaman dari standar GSM ini membuat jaringan GSM ini bisa roaming antar operator di seluruh dunia sehingga pelanggan dengan nomor yang sama bisa menggunakannya di banyak tempat di seluruh dunia. Jaringan GSM beroperasi pada frekuensi 900 Mhz dan 1800 Mhz.

Teknologi CDMA dikembangkan oleh Qualcomm di USA, dikenal dengan nama IS-95 (International Standard of Telecomunication). Merek dagang Qualcomm untuk CDMA generasi ke dua (2G) ini yaitu CDMAOne. CDMA adalah solusi alternatif untuk jaringan telepon seluler dengan tarif yang lebih murah dibanding dengan tarif layanan jaringan GSM. CDMA beroperasi secara nasional dan regional, sedangkan GSM beroperasi secara global. Jaringan CDMA bekerja pada frekuensi 800 Mhz, sebagian 1900 Mhz dan 450 Mhz.

Operator seluler CDMA seperti Telkom Flexi dan Indosat Starone (untuk wilayah Jawa Barat termasuk Jabodetabek dan Propinsi Banten) yang bekerja pada frekuensi 1900 Mhz, harus pindah ke frekuensi 800 Mhz, disebabkan frekuensi tersebut digunakan oleh jaringan 3G.

Teknologi 3G, yang diperkenalkan Pemerintah sejak pertengahan tahun 2003, salah satunya bertujuan untuk memanjakan para pengguna jasa telekomunikasi seluler, tentunya dengan fitur-fitur yang membuat layanan telekomunikasi seluler akan semakin canggih.

Pertanyaan yang sering muncul adalah Apakah sudah saatnya Indonesia membutuhkan atau menggunakan teknologi 3G? Dikarenakan investasi yang dibutuhkan untuk infrastuktur 3G ini sangat mahal. Singapura saja, menunda implementasi 3G ini dengan alasan tingginya biaya investasi.
Kemudian apakah teknologi 3G ini bisa memberikan manfaat yang nyata bagi penggunanya? Kalau betul, lalu siapa saja yang memerlukan teknologi 3G ini? Berapa banyak jumlah mereka?

Pertanyaaan lainnya adalah apakah pasarnya memang cukup feasible? Dalam arti, apakah bisnis 3G ini menjanjikan, apalagi bisa menguntungkan? Ini menjadi persoalan mendasar dalam dunia bisnis. Pertanyaaan ini bila dilihat dari sudut pandang operator atau penyedia jasa 3G.

Oleh karena itu, Teknologi 3G ini sebetulnya masih menjadi perdebatan yang serius dan mendalam khususnya di antara para praktisi dan operator dunia telekomunikasi. Topik-topik yang sering dibicarakan adalah tentang kelebihan dan fitur dari jenis teknologi ini, seperti fitur data yang sanggup menghantarkan berbagai aplikasi multimedia ke setiap pelanggan, kecepatan akses hingga 2 Mbps, kualitas suara yang lebih jernih, dsb.

Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah fitur dan kelebihan-kelebihan dari teknologi 3G tersebut memang dibutuhkan oleh pengguna saat ini? Atau kalaupun belum dibutuhkan, bagaimana mensiasatinya agar bisa masuk ke dalam pasar?

Data menunjukkan bahwa saat ini kebanyakan pengguna telepon seluler dikatakan hanya menggunakan layanan suara (voice) dan SMS (Short Message Service) saja yakni jumlahnya mencapai 99%. Kalau dilihat dari kontribusinya terhadap pendapatan operator seluler, terlihat bahwa suara (voice) masih memberikan kontribusi terbesar terhadap pendapatan mereka, yaitu 70-85%. Sementara SMS antara 10-25%, sedangkan data serta content masih berada dibawah angka 5%.

Dari informasi diatas dapat disimpulkan bahwa kebanyakan pengguna seluler cukup puas hanya dengan mendapatkan layanan suara dan SMS. Content selain suara dan SMS yang disediakan oleh operator ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan pengguna atau dengan kata lain data serta content belum terlalu dibutuhkan pengguna. Padahal content atau data services ini merupakan kelebihan dari teknologi 3G yang ingin ditawarkan operator jaringan 3G nantinya kepada pengguna.

Sebetulnya sudah ada teknologi GPRS (General Packet Radio Service) yang merupakan perkembangan teknologi GSM. GPRS ini merupakan teknologi antara generasi ke dua (2G) dan generasi ke tiga (3G), dan sering disisipkan sebagai teknologi generasi ke 2 setengah (2.5G).

Teknologi GPRS digital yang mempunyai kecepatan maksimum hingga 115 Kbps sudah bisa menawarkan fitur data untuk aplikasi multimedia seperti MMS (Multimedia Message Service) bahkan Internet.

Pada saat ini, lalu lintas pesan multimedia (MMS) yang terjadi di teknologi 2.5G (GPRS) baru mencapai 20.000 MMS per hari. Jika dibandingkan dengan pendahulunya yang telah sukses yaitu SMS bisa mencapai 15 juta per hari, entah kapan MMS bisa mencapai atau mendekati SMS. Hal ini juga diutarakan oleh Indra Gunawan, salah seorang pengamat telekomunikasi.

Boleh jadi operator tergiring oleh data yang dilangsir oleh Ovum, sebuah perusahaan dan survei ternama di dunia, diperkirakan mulai tahun 2006 jumlah pengguna SMS akan turun (dari 1000 milyar pertahun), sementara pengguna MMS akan naik tajam (sekitar 350 milyar pesan per tahun) pada tahun yang sama. Sekitar 3-4 tahun kemudian, diperkirakan jumlahnya akan sama. Namun hasil penelitian itu tidak dapat digeneralisir secara luas, apalagi untuk kondisi di Indonesia yang belum terlalu melek teknologi.

Selain itu di tingkat dunia tokoh cyber space, Nicholas Negroponte, menurutnya, pelanggan seluler akan cukup puas dengan GPRS yang mampu memberikan kecepatan data maksimal 115 Kbps dan komunikasi yang selalu ”on”. Memang agak susah membayangkan pelanggan yang bisa nyaman menjelajah Internet di terminal berlayar kecil dan beresolusi rendah seperti sekarang, meski sudah tersedia bandwitdh data lebar seperti ditawarkan 3G.

Kalau teknologi GPRS saja, belum dimanfaatkan secara maksimal hingga saat ini (ditunjukkan dengan tingkat pemakaian MMS yang masih jauh ketimbang SMS), ditambah lagi pelanggan seluler yang cukup dengan GPRS saja untuk menjelajah Internet, lalu bagaimana dengan kehadiran teknologi 3G? Dilihat dari urgensinya, apakah teknologi 3G ini benar-benar dibutuhkan saat ini? Atau hanya ingin mengikuti trend dunia luar saja?

Nah… untuk ulasan selanjutnya, tunggu tulisan saya tentang Teknologi 3G berikutnya.


Responses

  1. jujur panjang banget namun berisi informasinya seger. jadi sy comment berdasar hasil scan kalimat pembukanya aja yah.πŸ™‚

    Memangnya biaya infestasinya sebesar apa sampe singapura menolak berinvestasi ?

    apa 3g punya killer app kayak sms dizaman awal kemunculan selular (atau email di awl zaman internet) mulai booming ?

  2. artikel anda ada di:

    http://telekomunikasi.infogue.com/teknologi_3g_sukseskah_

    anda bisa promosikan artikel anda di infogue.com yang akan berguna untuk semua pembaca. Telah tersedia plugin/ widget vote & kirim berita yang ter-integrasi dengan sekali instalasi mudah bagi pengguna. Salam

  3. CDMA adalah solusi alternatif untuk jaringan telepon seluler dengan tarif yang lebih murah dibanding dengan tarif layanan jaringan GSM. CDMA beroperasi secara nasional dan regional, sedangkan GSM beroperasi secara global.

    Tidak ada hubungannya antara teknologi CDMA/GSM dengan tarif murah. Begitu pula dengan mode operasi yang dibedakan antara FWA maupun roaming layaknya GSM. Ini hanya masalah regulasi dan lisensi, tidak ada hubungannya samasekali dengan teknologi GSM/CDMA.

    Di bidang 3G, Indonesia sepertinya hanya mengikuti trend saja. Mengapa? Karena 3G/3.5G ini dapat dikatakan sebagai teknologi nanggung sebagai sarana pendukung mobile internet. Dengan bandwidth dan coverage yang tidak terlalu luas, tentunya semua kelemahannya dapat dengan mudah ditutupi oleh Wimax (802.11N).

    Saat banyak negara berlomba-lomba melakukan trial & deployment terhadap Wimax, Indonesia justru seakan-akan menunda-nunda, tarik ulur dari urusan regulasi, lisensi, dll, kenapa? Alasannya sudah jelas, karena wimax dapat mematikan 3G, padahal operator2 sudah terlanjur investasi besar-besaran demi 3G

    -Binus 05PUT-

  4. http://widiandika.blogspot.com

  5. Awal-awal penggunaan 3G di hp GSM memang cukup menarik dan mengundang banyak konsumen untuk menggunakannya.Keunggulan 3G membuat pemilik hp GSM bisa berkomunikasi langsung sekaligus bertatap muka dilayar hp tersebut.Memang komunikasi ini terlihat canggih dan modern tetapi penggunaan 3G ini tidak semua kalangan bisa memakai jaringan ini dengan cuma-cuma, kenapa?karena konsumen ini mengeluarkan tarif dengan murah untuk berkomunikasi.Biasanya yang menggunakan komunikasi ini hanya untuk kalangan menengah keatas seperti:bussinesman.
    Selain itu 3G dimanfaatkan oleh orang yang sudah lama tidak bertemu dengan kerabat ataupun keluarganya.

    Sesuai dengan berkembangnya zaman, Teknologi 3G ini jarang digunakan lagi karena disamping memerlukan tarif yang tidak sedikit juga karena sudah banyak teknologi yang lebih canggih dari 3G,Contohnya Internet.
    Daripada menggnakan 3G mereka lebih memilih menggunakan internet yang sudah berkembang diseluruh dunia.

    -Mirna widyastuti-
    -11085523-

  6. Jujur saya sebagai pengguna telepon seluler baru 1 x menggunakan fasilitas 3G,selain menyedot pulsa yang lumayan besar, fasilitas tersebut belum sangat saya butuhkan.

    Sangat benar respon masyarakat masihlah sangat besar dalam penggunaan layanan suara&SMS dibandingakan penggunaan layanan 3G. Semua itu mungkin dikarenakan layanan suara&SMS sangat efektif digunakan dalam komunikasi sehari2. Sedangkan fasilitas 3G hanya digunakan apabila ada keperluan2 tertentu.

    Lagipula menurut saya dibandingkan menggunakan fasilitas 3G di HP lebih baik menggunakan fasilitas internet,dengan memanfaatkan wi-fi gratis di sarana2 umum (hehehehe)

    Singkat kata, sepertinya masyarakat Indonesia belum begitu membutuhkan layanan 3G (menurut saya yaa) Pakai GPRS aja sudah cukup kok.

    Terima Kasih
    Desy Destriani (11085570)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: